Day: May 16, 2021

Sejarah Langgar Maskanussalam – Brotonegaran Ponorogo (bagian 2/2)

Keberadaan Langgar Maskanussalam di waktu berikutnya mendapat sambutan baik dari banyak kalangan. Jika dihitung, ada sekitar 50-60 santri yang ikut mengaji Qur’an, dengan tetap menggunakan metode sorogan. Sehingga pada periode ketiga ini, Mbah Sulaiman dan Mbah Parmiyati bahu-membahu mengajar santri-santriwati-nya, tidak hanya baca Qur’an, tetapi juga ditambahi materi Fashalatan (thaharah, shalat, dan zakat). Sehingga kerap terjadi sorogan belum selesai ketika masuk waktu Shalat Isya’ meskipun penambahan ayat tidak begitu panjang, hanya 1-2 ayat saja untuk masing-masing santri.

Sejarah Langgar Maskanussalam – Brotonegaran Ponorogo (bagian 1/2)

Sebelum Mbah Sulaiman menamai langgar yang telah berdiri, beberapa santri awal (Fadilan dan Sinto) mengusulkan nama “Baqil Huda” yang kurang-lebih bermakna “Petunjuk yang Abadi.” Tetapi usulan tersebut tidak serta merta diterima Mbah Sulaiman, mempertimbangkan sempitnya (ekslusif-nya) makna yang tersirat. Mbah Sulaiman berharap, secara lebih sederhana langgar ini nanti bisa menjadi tujuan siapapun orang yang berharap keselamatan, baik dunia ataupun akhirat. Sehingga atas gagasan beliau sendiri ditetapkanlah nama Maskanussalam, tepat di hari pertama Ramadhan 1388 H atau pada hari Kamis malam Jumat Wage, tanggal 21 November 1968 M.