ian hasan

Ahmad M. Nizar Alfian Hasan, akrab disapa Ian Hasan. Lulusan Sarjana Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta ini memiliki perhatian terhadap dunia pendidikan anak sejak kuliah. Ia beristrikan Fitri Fuji Astuti, seorang perempuan berjiwa pendidik yang memberinya dua putra, perempuan sulung Gya Fathiya Qatrunnada dan adik laki-lakinya Ken Tasaama Dliyaulhaq. Sembari tetap menjalankan amanat sebagai pengurus RT, hingga sekarang ia terlibat di Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah Salatiga, sebuah lembaga non-profit yang telah memberinya kesempatan menerbitkan buku pertamanya “Desaku, Sekolahku” pada 2007 lalu. Di sela-sela kesibukannya berprofesi sebagai arsitek lepas, dia terus berproses mengembangkan formula dan keterlibatan dalam upaya menghadirkan ruang belajar efektif bagi anak-anak, khususnya di perdesaan. Pernah terlibat dalam beberapa inisiasi praktik pendidikan alternatif, seperti Sanggar Opus di Jaten (2008-2009), Kelompok Belajar Inshofi (2010), Sekolah Humanis Lembah Manah (2011), Sanggar Kungkong (2015), Sekolah Tani DIgdaya Muda (2016), dll. Pada tahun 2013, dia bersama warga kampungnya mendirikan Pasamuan Among Anak (Pamongan), sebuah model prakarsa pendidikan alternatif berupa sanggar komunitas yang masih berjalan hingga sekarang. Menggambar, membaca, menulis dan bertani adalah kegemaran lain yang sedang ditekuni, selain terlibat di beberapa komunitas, seperti: Lingkar Belajar Antar Sangggar (LiBAS), Karanganyar Taman Kabudayan, Komunitas Kamar Kata, dan Komunitas Debog Wengker. Ia sempat beberapa kali menjadi pembicara dan pemateri workshop di bidang kepengasuhan, literasi hijau, dan pendidikan alternatif, disamping rutin melakukan lawatan ke berbagai macam komunitas untuk belajar tentang banyak hal.

Sejarah Langgar Maskanussalam – Brotonegaran Ponorogo (bagian 2/2)

Keberadaan Langgar Maskanussalam di waktu berikutnya mendapat sambutan baik dari banyak kalangan. Jika dihitung, ada sekitar 50-60 santri yang ikut mengaji Qur’an, dengan tetap menggunakan metode sorogan. Sehingga pada periode ketiga ini, Mbah Sulaiman dan Mbah Parmiyati bahu-membahu mengajar santri-santriwati-nya, tidak hanya baca Qur’an, tetapi juga ditambahi materi Fashalatan (thaharah, shalat, dan zakat). Sehingga kerap terjadi sorogan belum selesai ketika masuk waktu Shalat Isya’ meskipun penambahan ayat tidak begitu panjang, hanya 1-2 ayat saja untuk masing-masing santri.

Sejarah Langgar Maskanussalam – Brotonegaran Ponorogo (bagian 1/2)

Sebelum Mbah Sulaiman menamai langgar yang telah berdiri, beberapa santri awal (Fadilan dan Sinto) mengusulkan nama “Baqil Huda” yang kurang-lebih bermakna “Petunjuk yang Abadi.” Tetapi usulan tersebut tidak serta merta diterima Mbah Sulaiman, mempertimbangkan sempitnya (ekslusif-nya) makna yang tersirat. Mbah Sulaiman berharap, secara lebih sederhana langgar ini nanti bisa menjadi tujuan siapapun orang yang berharap keselamatan, baik dunia ataupun akhirat. Sehingga atas gagasan beliau sendiri ditetapkanlah nama Maskanussalam, tepat di hari pertama Ramadhan 1388 H atau pada hari Kamis malam Jumat Wage, tanggal 21 November 1968 M.

Terkait Praktik Pendidikan Alternatif*

Ruang-ruang organis nan teduh, spot-spot dolanan, dan ragam pajangan hasil karya anak-anak yang tertata apik menyambut kedatangan kami. Beberapa kelompok anak kami jumpai sedang bermain dan bercengkerama dengan pertautan kegembiraan satu sama lain. Buku-buku menjadi tidak lebih penting daripada kegembiraan anak-anak itu saat bebas bermain bersama teman-teman sejawat di lingkungannya.

Legenda Band dan Rental Studio Musik

Nama Ono memang tak bisa lepas dari nama Andternas yang menyertai nama panggilan tersebut. Andternas adalah nama band lokal yang pernah beliau gawangi antara tahun 1997-1999 di Ponorogo. Pada fase tersebut, Andternas sendiri berada pada formasi ke-3 sejak awal dirintis pada tahun 1995.

Legenda Sablon dan Dekorasi Panggung

Nama besar Pete sebagai maestro lukis media luar ruang (outdoor) atau dalam ruang (indoor) dan sablon, sudah tak diragukan lagi. Beberapa acara (event) besar yang tidak bisa lepas dari namanya di kurun akhir 1990-an antara lain GMS (Ganesha Music Show) & Final Night, sebuah perhelatan tahunan dari salah satu sekolah favorit di Ponorogo.

Jejak Program Pemberdayaan ala Pemerintah

Niscaya lalu terjadi saling-transfer perlahan-lahan suatu mutasi pola birokrasi ke dalam sendi-sendi sikap dan pemikiran para pelaku yang terlibat tadi, menyinergi dalam tatanan baru yang nampak kondusif. Suatu tatanan yang ketika kita tengok lebih dalam hanya menguntungkan segelintir elit birokrasi dan elit masyarakat, karena bagaimana pun masyarakat bawah secara umum hanya mampu menerimanya sebagai kebenaran, karena iklim yang demikian, karena kuasa sebuah kekuatan yang tak mampu mereka sentuh dan hanya mereka rasakan.

Racikan Citarasa dari Kratonan Hingga Madirda

Bagi saya yang berangkat dari kegamangan antara naluri seni dan nalar teknik yang pas-pasan, masuk ke ekosistem kampus arsitektur tentu saja menjadi suatu kebanggaan. Sensasi melayang itu teramu dalam perpaduan rasa berhasil mengalahkan kecondongan minat pribadi pada bidang seni, dan terpenuhinya harapan orangtua menyekolahkan anaknya di bidang yang sesuai ekspektasi.

Senarai Maulid Pendidikan Alternatif

Sudah cukup banyak koreksi atas praktik pendidikan ala pemerintah saat ini, namun bukan berarti persoalan di dalamnya menjadi cepat terselesaikan, apalagi berharap pada terjadinya perubahan yang menggembirakan. Pun agaknya kita perlu menengok sebentar ke belakang, di mana perkembangan praktik pendidikan bangsa ini pada dasarnya berwatak mandiri dan lokal.

Berbagi Refleksi yang Menggerakkan

Menjadi sebuah kabar gembira manakala masih ada segelintir anak-anak muda yang notabene para sarjana berkumpul, berdiskusi, berbagi hal-hal baik, saling menyemangati dan menebar harapan dari pengalaman-pengalaman kecil yang menginspirasi. Lebih-lebih apa yang tengah dikupas adalah hal-hal maknawi lagi mendasar, melampaui kapasitas profesi ataupun basis keilmuan formal yang pernah ditempuh para pegiatnya.

Implementasi Sinergis PAUD Komunitas Berbasis Desa

Sudah saatnya kita perlu lebih jujur memaknai fasilitas sebagai kemudahan, dalam segala bentuknya. Sehingga bagi masyarakat pedesaan yang tinggal di pelosok-pelosok (kepulauan, hutan, gunung, pantai, dll) akan semakin mengerti bahwa di sekitar mereka terlimpah begitu banyak sumberdaya yang bisa dikelola untuk kemudian menjadi “ruang dan alat bermain-belajar” bagi anak-anak.