Racikan Citarasa dari Kratonan Hingga Madirda

daftar isi

:Pre-memori Reuni 20 Tahun Angkatan 2000 Arsitektur UNS

Bagi saya yang berangkat dari kegamangan antara naluri seni dan nalar teknik yang pas-pasan, masuk ke ekosistem kampus arsitektur tentu saja menjadi suatu kebanggaan. Sensasi melayang itu teramu dalam perpaduan rasa berhasil mengalahkan kecondongan minat pribadi pada bidang seni, dan terpenuhinya harapan orangtua menyekolahkan anaknya di bidang yang sesuai ekspektasi.

Euforia semacam itu gayung bersambut dengan iklim pergaulan di kampus arsitektur UNS yang semarak sejak kali pertama berkenalan dengan teman-teman baru. Untuk anak muda introvert seperti saya—setidaknya ketika saya berkaca, bayangan mencekam suasana ospek sudah menjadi teror lebih dulu, bahkan sebelum mengalaminya sendiri. Celakanya, itu pun tak terbukti benar saat bersama angkatan 2000 melewatinya dengan serba mengesankan, tak kurang mengaduk-aduk sesuatu di rongga dada dan tempurung kepala. Alih-alih berang, kecewa ataupun dendam sebagai impresi atas perlakuan para senior, malah bertumbuh sebentuk rasa persaudaraan yang seketika tertanam, mulai dari lingkaran teman yang kos berdekatan, yang punya kesamaan minat dan kesukaan, lalu melebar hingga teman-teman lintas angkatan, melebur jarak usia dan pengalaman.

Citarasa yang kemudian terbangun berikutnya bukan tanpa cela dan sewarna, karena setiap pribadi pasti punya rekaman otentik masing-masing ketika mencecap proses itu selangkah demi selangkah, segores demi segores. Bahan baku setiap dari kita pun sudah pasti berbeda, dan, oleh karena itulah hidangan yang kita sajikan di meja-meja masa depan kita sekarang begitu banyak warna.

Satu hal yang menurut saya kental menyertai perjalanan—sebagai konteks terbangunnya citarasa itu—manakala kita seperti dipaksa kenal lebih cepat sebagai sesama penguni baru. Sebuah metode cerdik yang dipakai oleh kakak-kakak tingkat kita—menurut saya—berhasil mempercepat terbukanya keselarasan batin sesama kita. Rasa saling membutuhkan, tempaan kebersamaan, dan semangat mempertahankan kekompakan—yang tidak selalu manis ketika mengalaminya, tak pelak membuat kita sanggup bertahan sebagai satu keluarga hingga sekarang dan kapanpun, semoga saja.

Menghayati kebersamaan sejak dari Kratonan (ketika diospek) hingga Madirda (ketika menjadi panitia ospek) barangkali hanya satu butir kecil saja dari segunung kesan dan pengalaman yang mendiami batin kita. Tetapi saya memilih butiran itu sebagai pintu masuk menyusuri lorong-lorong kebersamaan kita, untuk menyajikannya ke dalam catatan ini, yang tak perlu saya tuangkan detailnya. Hanya saja kalau boleh saya memetik, ada semacam proses pengenalan, penggemblengan, hingga pengukuhan kita sebagai keluarga, yang terbukti efektif dan berhasil pada kedalaman fase itu. Lebih jauh, saya sendiri merasa telah mendapatkan banyak hal ketika belajar di kampus arsitektur. Terutama perihal ‘membaca’ gejala dan pola, lalu mendekatinya dengan beragam cara dan sudut pandang, sehingga bisa tersusun ke dalam sebuah pemikiran yang sarat. Serangkaian kesempatan berharga semacam obrolan di meja-meja kantin, kanopi kampus, beranda kontrakan, tikar angkringan, gerbong prambanan express, atau sekadar di warung langganan sembari sarapan yang kesiangan, menjadi sumur-sumur dengan mata air yang terus mengalir hingga sekarang.

Atas dasar semua itulah saya sampai takut meninggalkan rasa syukur karena telah menjadi bagian dari kalian. Terlebih dengan rencana reuni duapuluhtahun kita yang tertunda hingga entah kapan, rasa-rasanya amat sayang kalau catatan kecil yang sedianya kita himpun dalam satu buku ini, semata-mata disimpan. ***

Karanganyar, 4 Juli 2020

Ahmad M. Nizar Alfian H. – I.0200012

6 thoughts on “Racikan Citarasa dari Kratonan Hingga Madirda”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn