Sejarah Langgar Maskanussalam – Brotonegaran Ponorogo (bagian 1/2)

daftar isi

A. PERIODE AWAL/RINTISAN (awal 1960-an)

Sejarah berdirinya Langgar Maskanussalam tidak bisa lepas dari sosok Mbah Sulaiman bin Abdullah Umar sebagai pendiri. Menurut keterangan Mbah Sirojudin-Jenes, Mbah Sulaiman pindah dan mulai menetap di Jalan Kokrosono-Brotonegaran pada tahun 1958. Saat itu beliau berusia 38 tahun dan telah mempunyai beberapa murid (santri) perintis sejak masih tinggal di Jenes, yakni: Mbah Madar (Jenes), Mbah Saleh (Jenes), dan Mbah Soleh (Brotonegaran).

Sebelum langgar berdiri atau semenjak awal tinggal di rumah baru hingga sekitar tahun 1960-1961, Mbah Sulaiman telah rutin mengajar ngaji di rumah beliau (rumah induk sisi barat, sebelah utara Senthong). Metode yang digunakan adalah ‘sorogan,’ satu per satu santri menyetorkan bacaan kepada Mbah Suliman secara berhadap-hadapan (berseberang meja), bukan di samping atau bersisian. Sehingga ketika dilihat, Mbah Sulaiman seperti menyimak dalam posisi Alquran terbalik.

Pada periode yang bisa dibilang awal ini, terdapat beberapa nama yang menjadi santri beliau, yakni: Pak Fadilan, Pak Kurmen, Pak Kaseri, Pak Sinto (Thohir Maksum), dan Pak Mulyono. Selain nama-nama tersebut, terdapat nama Pak Boiran (Jalan Semar) dan Pak Tukimin Dongklak (Jalan Noroyono) yang bertugas ‘angon’ hewan ternak milik Mbah Sulaiman, selain juga pada akhirnya ikut ngaji pula karena sehari-hari menginap di ‘gothakan’ depan rumah beliau. ‘Gothakan’ (semacam bilik/kamar) berdinding anyaman dan berlantai galar bambu itu, selain menjadi tempat tidur Pak Tukimin, juga menjadi tempat bercengkerama santri-santri awal, karena di dalam rumah induk, hal seperti itu tidak diperbolehkan.

Pada periode ini, sebelum langgar berdiri, Pak Fadilan dan Pak Sinto menjadi santri kepercayaan Mbah Sulaiman, beberapa kali ditunjuk untuk menggantikan beliau ketika berhalangan, baik itu ketika mengimami shalat ataupun mengajari ngaji ‘adik-adik’ angkatannya. Perlu diketahui juga kebiasaan Mbah Sulaiman ketika mengajar, saat menemui ayat-ayat penting yang mengandung pelajaran tentang keutamaan (fadilah) ataupun hukum, maka Mbah Sulaiman akan menerjemahkan dan memberikan penjelasan seperlunya agar dimengerti oleh para santri yang rata-rata berusia belasan, agar bisa digunakan sehari-hari.

Di masa-masa rintisian ini, meskipun bangunan langgar belum berdiri, sudah terasa suasana belajar sebagaimana sekarang. Selain karena kegiatan belajar baca Al-Qur’an setiap bakda Maghrib hingga Isya’, beberapa kegiatan lain  yang telah rutin dilselenggarakan, baik itu mingguan, selapanan, ataupun tahunan, antara lain:

  • Shalat Hajat setiap malam Jumat dan Shalat Tasbih setiap malam Jumat Legi, diimami sendiri oleh Mbah Sulaiman;
  • Latihan ‘terbangan’ (shalawatan) setiap selapan (35 hari), digiatkan oleh Pak Madar, Pak Saleh, dan Pak Miskan;
  • Penyaluran Zakat Fitrah dan Ibadah Qurban, atas nama Pengurus Ranting NU Brotonegaran;

Seiring perjalanan waktu, beberapa tahun kemudian berdatangan santri-santri baru, baik itu dari Brotonegaran sendiri, ataupun dari desa-desa lain, seperti Kauman Kota, Pakunden, dan Gandu Kepuh. Kedatangan santri-santri tersebut tidak mengenal waktu atau musim, satu persatu datang secara bergelombang.

Nama-nama santri tersebut, untuk putra yakni: Sugihanto, Syamsudin (Klowong), Ahmad Fauzan, Suyadi, Boiran, Ahyari, Masruri, Purnomo, Agus, Fatohah, Salimik, Sarminan, Huda, Yunus, Suwono, dll. Pada periode kedua ini, Mbah Sulaiman juga mulai menerima santri-santri putri seperti: Biyati, Muzayanah, Malem, Mini, Nasrifah, Hidayatul Anwaroti (Mboro), Yati (Mboro), dll. Mbah Parmiyati mulai ikut membantu mengajar ngaji bersama Mbah Sulaiman sejak ada santri putri dan pertimbangan putra kandung beliau banyak juga yang putri. Selain mengaji Al-Qur’an setiap bakda Maghrib, santri-santri tersebut juga mengikuti pelajaran Diniyah di rumah Mbah Abdul Manan (Imam Bonjol), yang juga terhitung masih adik ipar Mbah Sulaiman.

Periode ini tak pelak melewati masa-masa genting seputar peristiwa G-30S/PKI, khususnya penumpasan orang-orang yang diduga aktif sebagai anggota atau menjadi simpatisan partai terlarang tersebut. Sehingga beberapa kisah tersampaikan turun-temurun bahwa Mbah Sulaiman sempat menerima dan melindungi warga sekitar yang pada saat itu merasa terancam karena diduga terlibat dengan PKI. Termasuk salah satunya Mbah Saimin, tetangga sebelah Mbah Sulaiman sendiri, sampai sekarang masih hidup dan aktif menjadi jamaah langgar.

B. PERIODE BERDIRINYA LANGGAR (akhir 1960-an)

Ketika jumlah santri bertambah banyak di periode kedua ini, rencana pembangunan langgar dimulai dengan penyiapan bahan-material. Pembuatan material bata dilakukan di dua tempat, sebagian dibuat di halaman depan rumah Mbah Sulaiman dan sebagian yang lain di rumah Pak Mulyono, meskipun untuk pembakaran disatukan di halaman depan sisi Barat rumah Mbah Sulaiman (sebelah selatan bangunan langgar sekarang). Sementara itu, material kayu didatangkan langsung dari Jebeng-Slahung (daerah asal Mbah Abdullah Umar, ayahanda Mbah Sulaiman), dengan jarak sekitar 15 Km dari Brotonegaran, bisa seharian diangkut menggunakan dokar (tambahan info dari Pak Junaidi).

Proses pembakaran batu bata sempat diganggu makhluk halus (sejenis gendruwo), sehingga sebagian tumpukan bata mentah sisi utara tidak dapat terbakar hingga matang. Kejadian itu membuat Mbah Sulaiman harus turun tangan sendiri menghalau gangguan makhluk itu, yang ternyata berasal dari genderuwo yang tinggal di pohon besar di kebun sisi Timur (sekarang menjadi garasi mobil Pak Sugihanto). Menurut kisah yang beredar, genderuwo itu pula yang pernah berbuat usil ‘menggondhol’ istri Pak Umar ketika masih gadis.

Sementara itu, pembangunan fisik langgar mulai dirintis sejak Oktober 1967, yang meskipun tidak terkait langsung, hampir bersamaan dengan semangat merintis kegiatan penyantunan anak yatim (Yatiman) di rumah Mbah Lurah Sepuh (Mbah Martoredjo). Sebagaimana tersebut dalam tulisan yang lain (Baca: http://hujansorehari.blogspot.com/2019/02/melewati-setengah-abad-yatiman.htm), gagasan acara Yatiman ini diliputi oleh rasa empati dan kasih-sayang sesama manusia kepada anak-anak yatim yang mendadak kehilangan sosok ayah, pasca kejadian 1965-1966.

Kegiatan pembangunan langgar dilakukan dengan gotongroyong, melibatkan santri-santri awal tersebut. Mbah Singo (kakak Pak Tukimin) dipercaya menjadi tukang. Sedangkan untuk penentuan arah kiblat, Mbah Sulaiman terlebih dulu meminta nasehat dari Mbah Sujak (Imam Masjid Agung Kauman Kota) dan Mbah Iskandar (Kyai Jenes). Atas masukan dari kedua tokoh tersebut, yang disinyalir tidak satu pendapat, Mbah Sulaiman mengambil jalan tengah dengan sudut kemiringan sebagaimana dijumpai sekarang, tidak terlalu lurus ke Barat pun tidak terlalu menyerong ke Utara.

Sebegitu matangnya perencanaan, pembangunan langgar pun sejak awal telah mempertimbangkan keamanan struktur, di mana mulai dari pondasi hingga dinding bagian atas, diberi setidaknya tiga lapis ‘otot-otot’ (tulangan pengikat) dari bambu apus. Selain itu, dalam proses pembangunan tersebut juga mendapat dukungan/bantuan dari warga sekitar, selain tenaga juga material, seperti: tegel dari Mbah Markam, sepasang angin-angin (roaster bentuk jam) dari Mbah Koesnohadimoeljo, kayu lisplang dari Mbah Dimyati, dll. Untuk ukuran zaman itu, bangunan langgar berdinding dua bata sudah sangat modern dan layak. Pemberian nama langgar memiliki kisah tersendiri yang tergolong menarik. Sebelum Mbah Sulaiman menamai langgar yang telah berdiri, beberapa santri awal (Fadilan dan Sinto) mengusulkan nama “Baqil Huda” yang kurang-lebih bermakna “Petunjuk yang Abadi.” Tetapi usulan tersebut tidak serta merta diterima Mbah Sulaiman, mempertimbangkan sempitnya (ekslusif-nya) makna yang tersirat. Mbah Sulaiman berharap, secara lebih sederhana langgar ini nanti bisa menjadi tujuan siapapun orang yang berharap keselamatan, baik dunia ataupun akhirat. Sehingga atas gagasan beliau sendiri ditetapkanlah nama Maskanussalam, tepat di hari pertama Ramadhan 1388 H atau pada hari Kamis malam Jumat Wage, tanggal 21 November 1968 M. Sejak hari itulah Langgar Maskanussalam digunakan untuk Shalat Tarawih dan shalat-shalat jamaah Subuh-Maghrib-Isya’ hingga sekarang, meski hanya menggunakan penerangan lampu minyak (teplok dan petromax).***

Ponorogo, 15 Mei 2021 M (4 Syawal 1442 H)

____

* Sumber: Wawancara dengan Bapak H. Sugihanto (15 Mei 2021) dan beberapa tambahan dari narasumber dan catatan lain yang dihimpun sebelumnya;

* bagian pertama dari 2 tulisan;

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn