Sejarah Langgar Maskanussalam – Brotonegaran Ponorogo (bagian 2/2)

daftar isi

C. PERIODE PERKEMBANGAN KEGIATAN (tahun 1970-1990an)

Keberadaan Langgar Maskanussalam di waktu berikutnya mendapat sambutan baik dari banyak kalangan. Jika dihitung, ada sekitar 50-60 santri yang ikut mengaji Qur’an, dengan tetap menggunakan metode sorogan. Sehingga pada periode ketiga ini, Mbah Sulaiman dan Mbah Parmiyati bahu-membahu mengajar santri-santriwati-nya, tidak hanya baca Qur’an, tetapi juga ditambahi materi Fashalatan (thaharah, shalat, dan zakat). Sehingga kerap terjadi sorogan belum selesai ketika masuk waktu Shalat Isya’ meskipun penambahan ayat tidak begitu panjang, hanya 1-2 ayat saja untuk masing-masing santri. Beberapa kegiatan penting diperkirakan mulai marak diselenggarakan pada periode ini, antar lain:

  • Pembentukan panitia dan lazimnya penggunaan ‘centhak’ untuk menakar zakat fitrah, sehingga Langgar Maskanussalam pada masa ini semakin dikenal menjadi penyalur zakat fitrah dari dan bagi warga sekitar. Pernah di tahun tertentu tempat penerimaan zakat dipindahkan ke rumah Mbah Dimyati karena pertimbangan satu-dua hal, tetapi selanjutnya kembali ke rumah Mbah Sulaiman hingga sekarang;
  • Setiap seminggu sekali dijadwalkan latihan Qiro’ah untuk santri putri, dibimbing oleh Pak Zaini Manun. Beberapa tahun kemudian, kegiatan ini berlanjut dengan dibimbing Pak Suwono (alumni santri, murid Pak Asifuddin), dan masa-masa terakhir dibimbing Pak Taufik (santri Jenes), sekitar pertengahan 1980-an;
  • Pembentukan kelompok samroh, berjanjen, dan diba’an yang digiatkan oleh santri-santri putri, dengan pembawa’ (vokal utama) Umi Parwatie (putri sulung Mbah Sulaiman). Kelompok ini pun dinamai Maskanussalam, biasa diundang untuk mengisi acara-acara Sepasaran Bayi. Karena seringkali harus melawat hingga tetangga desa agak jauh, semisal pernah sampai ke Tambakbayan, Pak Sugihanto dan Pak Syamsudin dipercaya sebagai pengantar rombongan;
  • Sejak tahun 1970-an, kegiatan penyantunan anak yatim (Yatiman) yang beberapa tahun sebelumnya diselenggarakan di Rumah Mbah Lurah Sepuh, mulai dipindahkan ke Langgar Maskanussalam hingga sekarang;
  • Penyelenggaraan kegiatan Peringatan Hari Besar Islam dengan menggelar acara Pengajian Umum (seperti Isro’ Mi’roj), selain menampilkan qori’ dan kesenian hadroh dari santri sendiri, juga menghadirkan mubaligh dari alumni santri;
  • Pembagian jadwal imam shalat maktubah (Subuh, Maghrib, Isya’) antara Mbah Sulaiman dengan Mbah Dimyati di tahun-tahun terakhir periode ini.

Perkembangan pesat pada periode ini rupanya disambut pula dengan ketersediaan listrik dan fasilitas teknologi pengeras suara, tape recorder, dan kaset pita. Pemutaran kaset-kaset Qiro’ah dan Tarhim diperkirakan mulai berjalan di pertengahan periode ini, sekitar akhir tahun 1970-an. Sehingga gaung syiar dan dakwah di Langgar Maskanussalam semakin terasa bagi lingkungan sekitar.

Lagi-lagi gangguan makhlus halus pernah menimpa santri-santri, yakni ketika rombongan santri putri berangkat hendak mengisi acara barjanji. Di tengah jalan, ketika rombongan sampai di kebun belakang rumah Mbah Khotijah (lokasi masjid utara SD Brotonegaran 2 sekarang), serumpun pohon bambu mendadak roboh menghadang jalan. Sontak para santri putri yang diantar beberapa santri putra berlarian pulang, sehingga membuat Mbah Sulaiman kembali turun tangan menghalau gangguan tersebut.

D. PERIODE KADERISASI DAN PEWARISAN (tahun 2000-sekarang)

Periode ini ditandai dengan mulai tampilnya beberapa santri senior, putra-putri, menantu, keponakan-keponakan, dan cucu-cucu Mbah Sulaiman menjadi pengajar, seiring perkembangan usia mereka. Sehingga penyebutan tahun tidak dapat dituliskan secara tepat, karena terjadi secara berangsur-angsur. Beberapa kegiatan penting yang dapat dicatat pada periode ini, antara lain:

  • Pembukaan Ranting Pagar Nusa – Batara Perkasa mulai dirintis sejak tahun 1998, menyusul telah lulusnya Pak Nanang dan Mas Alfian mengikuti latihan di Setono pada masa-masa kritis era reformasi. Atas dukungan Mas Fauzi – Gatutkoco, Mas Agus Suprapto – Kauman Kota Lama, Mas Wasis – Parang Menang, kegiatan latihan berikutnya dilanjutkan oleh Mas Ardi dan Mas Rudi, hingga berhasil meluluskan 6 angkatan (1998-2003), sempat terhenti 15 tahun dan mulai diaktifkan kembali pada tahun 2018 hingga sekarang;
  • Pengajian Santri Songo, dengan kegiatan Tahsinul Qur’an bi-nadzhor rutin seminggu 3 kali yang dirintis sejak tahun 2001, dengan jumlah santri 9 orang. Pada awalnya selama 2 tahun dibimbing oleh Pak Arfiqul Mu’minin (putra Pak Suyadi/Mustika Yadi, alumni awal), dilanjutkan Pak Hafidz Khoiruddin – Ronowijayan selama 1 tahun. Pada pengajian ini, untuk meng-hatamkan Surat Al Fatihah saja dibutuhkan waktu lebih-kurang 1 tahun;
  • Pengajian Kitab (lanjutan pengajian Alqur’an) dimulai tahun 2004, dibimbing oleh Pak Abid Mufarrihin, seorang santri lulusan Lirboyo. Hingga saat ini telah meng-hatamkan lebih kurang 20-an kitab, seperti Fathul Qarib, Bullughul Maram, Fashalatan, dll. Meski tidak secara resmi diperkenalkan, santri-santri pengajian ini menamai dirinya/kegiatan dengan sebutan ‘Kenthong Maskanussalam’;
  • Penggabungan kegiatan langgar dan lingkungan pada masa Pak Nanang Rosyidi menjabat Ketua RT (sekitar tahun 2009-2016). Selama rentang waktu tersebut, semakin terbangun sinergi positif langgar dan lingkungan tiap tahun hingga sekarang, seperti: Pelaksanaan Ibadah Qurban dan Sujud Syukur Hari Kemerdekaan;
  • Pembukaan TPQ (Taman Pendidikan Qur’an) untuk anak-anak, kelas sore khusus putri, sejak setahun terakhir, dibimbing oleh Ibu Hj. Umi Riwayati;

Sebagaimana dipahami khalayak pada umumnya, Langgar Maskanussalam merupakan pelopor kantong kegiatan agama yang mendekat ke masyarakat, ke tengah-tengah warga Brotonegaran pada khususnya. Bahkan di kemudian hari, santri-santri alumni Maskanussalan menjadi pelopor pula mendirikan langgar, mushalla, ataupun masjid lain di sekitarnya.

Semoga sejarah singkat ini dapat menjadi pengingat kita semua, bahwa sudah sepantasnya kita sebagai generasi penerus menunjukkan rasa terimakasih dengan selalu mendoakan siapa saja yang pernah belajar dan mengajar di Langgar Maskanussalam. Terbukti telah banyak anak-anak dan keluarga-keluarga yang terselamatkan masa depannya, setidaknya karena bisa dan terbiasa membaca Al-Quran. Al-Faatihah… ***

Ponorogo, 15 Mei 2021 M (4 Syawal 1442 H)

____

* Sumber: Wawancara dengan Bapak H. Sugihanto (15 Mei 2021) dan beberapa tambahan dari narasumber dan catatan lain yang dihimpun sebelumnya;

* bagian kedua dari 2 tulisan;

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn