Senarai Maulid Pendidikan Alternatif

daftar isi

Sudah cukup banyak koreksi atas praktik pendidikan ala pemerintah saat ini, namun bukan berarti persoalan di dalamnya menjadi cepat terselesaikan, apalagi berharap pada terjadinya perubahan yang menggembirakan. Pun agaknya kita perlu menengok sebentar ke belakang, di mana perkembangan praktik pendidikan bangsa ini pada dasarnya berwatak mandiri dan lokal. Kita juga punya banyak sekali pemikir besar sekaligus praktisi pendidikan yang meletakkan pondasi lebih dulu daripada tokoh-tokoh pendidikan dunia seperti: A.S. Neill, Paulo Freire, Ivan Illich,Jean Piaget, dll. Sebut saja kita punya Haji Agus Salim, Moh. Natsir, Tengku Mohammad Syafei, Tan Malaka, Ki Hajar Dewantara, Y.B. Mangunwijaya, dan masih banyak lagi, yang mereka selalu menyandingkan corak kebangsaan dan watak kemandirian yang berakar, ke dalam pemikiran dan praktik pendidikan yang mereka bentangkan.

Model-model praktik pendidikan pun sejak dulu bangsa ini tak kurang punya banyak sekali varian yang kesemuanya menunjukkan bahwa muatan konteks menjadi lebih dominan dan lebih solutif dalam memecahkan persoalan-persoalan masyarakat pada zamannya. Konsep mandala, padepokan, perguruan, pesantren berkembang pada fase di mana figur kebijaksanaan sentral menjadi patron. Lalu di permulaan abad 20, seiring dengan tumbuhnya wawasan kebangsaan dan pergerakan nasional menuju kemerdekaanan, muncul pelbagai praktik dan dialektika pemikiran yang mengkritisi kelangsungan pendidikan ala pemerintah (penjajah) kolonial.

Sebut saja Sarasehan “MALAM SELASA KLIWONAN” di  Yogyakarta yang kemudian melahirkan National Onderwijs Institut “TAMAN SISWA” (Ki Ageng Suryomentaram, Ki Hajar Dewantara, dkk), lalu Soerjo Soemirat Afdeeling “TASHWIROEL AFKAR” di Surabaya yang mempertemukan pegiat-pegiat NU, Muhammadiyah dan Budi Utomo dalam satu forum diskusi (K.H. Wahan Chasbullah, K.H. Mas Mansur, dll), juga Indonesische Nederland School “KAYU TANAM” di Sumatera Barat yang menitik-beratkan berkembangnya minat-bakat yang sesuai dengan kebutuhan rakyat Indonesia (Tengku Mohammad Syafei), dsb. Sehingga tak heran jika pada kurun waktu ini faktanya seperti Taman Siswa sempat  dibredel pada usia belum genap satu tahun, Tashwiroel Afkar harus menggunakan awalan ‘Soerjo Soemirat’ agar aktifitasnya bisa berjalan.

Kemudian pada jelang akhir abad 20, SD Eksperimental Mangunan di Yogyakarta mencoba “keluar” dari kungkungan arus utama pendidikan dengan mengkontekstualisasikan hal-hal lama ke dalam sesuatu  yang lebih menarik dan hidup, menyesuaikan dengan dinamika kebutuhan dan persoalan bangsa (Romo Mangun, dkk di Dinamika Edukasi Dasar) di tengah orde/rezim yang hegemonik pada saat itu. Tak lama berikutnya muncul beragam praktik pendidikan ‘arus-lain’ seperti: Sanggar Anak Alam – Yogyakarta (Toto Raharjo, dkk), Sekolah Otonom Sanggak Anak Akar – Jakarta (Soesilo Adinegoro, Ibe Karyanto, dkk), Sokola Rimba – Jambi (Butet Manurung, dkk), Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah – Salatiga (Bahruddin, dkk), yang kemudian disusul lagi kemunculan banyak komunitas-komunitas belajar yang menjadi laboratorium-laboratorium praktik langsung di masyarakat, semacam Omah Dongeng Marwah – Kudus (Hasan Aoni Azis, dkk), Rumah Belajar Ilalang – Jepara (Den Hasan, dkk), Kampung Pingin Maju – Jepara (Arif Hidayat, dkk), Sanggar Pasamuan Among Anak – Karanganyar (Alfian, dkk), dan masih banyak lagi.

Ke semua model itu mengetengahkan keniscayaan bahwa ‘pendidikan untuk semua’ hanya bisa tercapai (dalam waktu cepat) jika masyarakat mampu bergerak mandiri tidak bergantung pada ketersediaan layanan dan kemudahan dari pemerintah. Akan tetapi menjadi sebuah langkah bersama antar warga dalam suatu komunitas untuk berbagi kemudahan (fasilitas), saling bantu dan secara realistis mengoptimalkan sumberdaya yang ada di sekitar. Agar tidak justru menjadi beban dan dapat sesegera mungkin terbangun ekosistem pendidikan melalui perbanyakan yang terjadi di banyak tempat, sehingga negara dalam hal ini akan sangat terkurangi bebannya karena masyarakat terlayani bukan oleh siapa-siapa, melainkan dari upaya dan kegigihan mereka sendiri. Lalu patutlah kita lebih sederhanakan lagi batasan pendidikan itu sebagai:

  • Ketika berkumpul lalu bermusyawarah adalah dalam rangka membahas persoalan keseharian, lalu mengelola solusinya secara bersama-sama;
  • Ketika belajar menjadi sebuah gerakan menghargai keberagaman kecerdasan dan potensi serta selalu bersandar pada konteks kehidupan lokal;
  • Ketika berkembang gagasan kreatif dan inovatif dalam masyarakat untuk mengelola potensi sumberdaya alam setempat secara adil dan berkelanjutan sehingga mandiri dalam mencukupi kebutuhan;
  • Ketika terselenggara pendidikan yang utuh dan terpadu mulai dari anak usia dini hingga dewasa dengan bertumpu pada tradisi kepengasuhan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat;
  • Ketika terbangun peran-serta dan jejaring antar warga/komunitas kritis untuk perubahan yang lebih baik dan berkeadilan;

Lalu di mana letak Pendidikan Formal (sekolah)? Pasti itu pertanyaan yang muncul kemudian. Saya jadi ingat manakala sempat bersama kawan-kawan berbincang dengan seorang Uskup di Larantuka. Beliau menyampaikan keyakinan bahwasanya sekolah itu hanya ‘pembantu’ saja, karena utamanya seorang manusia itu terdidik dari keluarga dan masyarakat. Hal ini tentu selaras dengan apa yang kita yakini bersama sebagai bangsa relijius dan juga bangsa timur, bahwa pendidikan keluarga adalah basis pertama, di mana pondasi jiwa dan raga seseorang terbangun bersama pola kepengasuhan yang selayaknya tak kenal putus (sepanjang hayat). Sementara sekolah (sebagai model pendidikan formal  yang susah berubah) cukup hanya menjadi pelengkap saja, lewat keseragaman pengajaran yang membantu seseorang kenal dengan ilmu-ilmu alat (bahasa dan logika) sebagai bekal pembacaan mereka atas konteks kehidupan di sekitarnya. Ramuan lebih lanjut kiranya akan lebih matang jika direfleksikan bersama (keluarga dan masyarakat) sehingga terpadu dan tepat-guna dalam memenuhi kualitas penyelenggaraan pendidikan sebagaimana yang dimaksud di awal tulisan (percepatan perubahan). Karena (sekali lagi) bangsa ini lebih butuh keluaran pendidikan yang:

  • Minimal TIDAK MEREPOTKAN orang lain, setelah seseorang—anak misalnya— mampu mengenal dan memahami diri sendiri (identifikasi-diri) dalam perjalanan hidupnya.
  • Syukur-syukur MENJADI MANFAAT bagi sekitar, karena ada keluasan hati, pikiran, dan tenaga yang terus menerus tergali dan terbangun dalam proses berdialog dan berdamai dengan alam dan manusia di sekitarnya;
  • Kemudian tumbuh KECERDASAN RUHANI-nya, sebagai akibat dari sikap dan tindakan yang selalu dikaitkan dengan kausalitas (sebab-akibat) penciptaan, kesalehan sosial dan kearifan memaknai kelemahan diri jika tanpa dukungan semesta-sekitar;

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2017 yang juga berarti Selamat Merayakan Hari Maulid Ki Hajar Dewantara yang ke-128, dan selamat memaknai pendidikan dalam arti seluas-luasnya!

Bumi Sepanggang, 2 Mei 2017

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn